Fst.umsida.ac.id – Tim peneliti Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menghadirkan inovasi mikrofiltrasi minyak jelantah di Desa Sumorame sebagai solusi pengolahan limbah minyak goreng agar lebih aman dan bernilai guna.
Inovasi ini bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus mendukung produktivitas pelaku UMKM melalui teknologi tepat guna.
Kegiatan ini dipimpin oleh Dr Poppy Diana Sari STP MP bersama Dr Lukman Hudi STP MMT dan Dr Syarifa Ramadhani Nurbaya STP MP.
Mereka mengenalkan prototype sistem mikrofiltrasi bertingkat yang dirancang untuk memperbaiki kualitas minyak jelantah secara fisik dan kimia sehingga layak digunakan kembali.
Sistem Mikrofiltrasi Minyak Jelantah Berbasis Filtrasi Bertingkat

Prototype yang dikembangkan menggunakan beberapa tahapan penyaringan. Proses dimulai dari penyaringan awal menggunakan kertas saring untuk menghilangkan partikel kasar. Selanjutnya, dilakukan proses adsorpsi menggunakan pasir zeolit untuk mengurangi warna gelap dan bau tidak sedap.
Tahap akhir menggunakan mikrofiltrasi dengan filter paper Whatman berukuran 2,5 µm dan 8 µm. Sistem ini dirancang agar mampu menyaring senyawa berbahaya secara lebih optimal, sehingga minyak jelantah yang dihasilkan menjadi lebih jernih, tidak berbau, dan lebih aman digunakan kembali.
Dr Poppy menjelaskan bahwa inovasi ini tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga kemudahan penggunaan di masyarakat.
“Kami merancang sistem ini agar sederhana, mudah digunakan, dan bisa diaplikasikan langsung oleh masyarakat, khususnya pelaku UMKM, sehingga minyak jelantah tidak lagi menjadi limbah berbahaya, tetapi bisa dimanfaatkan kembali secara lebih aman,” ujarnya.
Hasil Penelitian Tunjukkan Penurunan Senyawa Berbahaya
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kualitas minyak yang signifikan setelah melalui proses mikrofiltrasi.
Sebelum perlakuan, minyak jelantah memiliki angka asam sebesar 0,9144 mg KOH/g, kadar asam lemak bebas (FFA) 0,6982%, viskositas 54,0167 Pa.s, serta bilangan peroksida 16,8323 meq O₂/kg.
Setelah dilakukan penyaringan menggunakan filter 2,5 µm, angka asam menurun menjadi 0,4108 mg KOH/g, FFA menjadi 0,2384%, viskositas menjadi 32,8433 Pa.s, dan bilangan peroksida turun menjadi 8,3841 meq O₂/kg. Sementara pada filter 8 µm, angka asam menjadi 0,5222 mg KOH/g dan FFA sebesar 0,300%.
Data tersebut menunjukkan bahwa kedua ukuran filter mampu menurunkan kandungan senyawa berbahaya secara signifikan, dengan performa terbaik pada ukuran 2,5 µm.
Dukungan Teknologi dan Antusiasme Masyarakat

Sebagai bentuk implementasi nyata, tim juga membagikan prototype mikrofiltrasi kepada peserta melalui mekanisme undian. Langkah ini dilakukan untuk memastikan distribusi yang adil sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat selama kegiatan berlangsung.
Selain itu, alat bantu vakum turut diperkenalkan untuk mempercepat proses penyaringan yang sebelumnya dilakukan secara manual. Kehadiran alat ini dinilai sangat membantu pelaku UMKM dalam meningkatkan efisiensi produksi.
Masyarakat memberikan respons positif terhadap inovasi ini. Mereka menilai alat filtrasi mudah digunakan dan mampu menghasilkan minyak yang lebih jernih serta tidak berbau menyengat.
Pendampingan langsung dari tim peneliti juga membuat peserta lebih percaya diri dalam mengaplikasikan teknologi tersebut secara mandiri.
“Kami berharap inovasi ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola minyak jelantah serta membuka peluang ekonomi baru dari pemanfaatan limbah menjadi produk yang lebih bernilai,” ujar dr poppy.
Melalui kegiatan ini, Umsida terus berkomitmen menghadirkan inovasi yang tidak hanya berbasis riset, tetapi juga aplikatif dan berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung kesehatan dan keberlanjutan lingkungan.
Sumber: Dr Poppy Diana Sari STP MP
Penulis: Annifa Umma’yah Bassiroh
















