Fst.umsida.ac.id – Studi banding POTIK Umsida bersama POTIK Universitas Telkom Surabaya menjadi ruang berbagi pengalaman dalam pengelolaan Pojok Statistik di lingkungan perguruan tinggi. Kegiatan ini berlangsung di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Umsida dan diikuti oleh pengelola POTIK, perwakilan BPS Sidoarjo, serta mahasiswa agen statistik.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Koordinator POTIK Umsida Dr Suprianto SSi MSi CSA, Koordinator POTIK Universitas Telkom Surabaya Regita Putri Permata SStat MStat, perwakilan BPS Sidoarjo, serta mahasiswa dari kedua perguruan tinggi.
Melalui studi banding ini, peserta berdiskusi mengenai strategi pengelolaan Pojok Statistik, penguatan agen statistik, kerja sama dengan BPS, serta peran POTIK dalam meningkatkan literasi data di lingkungan kampus.
Studi Banding POTIK Umsida Jadi Ruang Berbagi Pengalaman

Dalam sambutannya, Dr Suprianto menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia juga menyambut baik kehadiran tim POTIK Universitas Telkom Surabaya di Umsida.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi dan saling berbagi pengalaman. Selain itu, studi banding ini juga menjadi ruang untuk mengenalkan pengelolaan POTIK Umsida secara lebih dekat.
“Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT. Pada hari ini kita bisa bertemu dalam keadaan sehat walafiat dan bersilaturahmi bersama. Kami sangat berbahagia hari ini didatangi oleh Universitas Telkom Surabaya. Hari ini kami merasa bangga dan akan menyampaikan apa yang ingin diketahui,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator POTIK Universitas Telkom Surabaya Regita Putri Permata SStat MStat menyampaikan bahwa kunjungan ini dilakukan untuk mengetahui lebih jauh praktik pengelolaan POTIK Umsida. Melalui kegiatan tersebut, pihaknya berharap dapat memperoleh gambaran mengenai strategi pengembangan Pojok Statistik, khususnya dalam membangun peran agen statistik dan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak.
POTIK Umsida Dorong Mahasiswa Aktif dan Berani Bicara
Dalam pemaparannya, Dr Suprianto menjelaskan bahwa POTIK tidak hanya berfungsi sebagai tempat konsultasi statistik. Lebih dari itu, POTIK juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan komunikasi.
Menurutnya, mahasiswa perlu dilatih agar berani berbicara di depan umum, bertemu dengan orang baru, dan menyampaikan gagasan secara percaya diri. Kemampuan tersebut penting karena akan dibutuhkan ketika mahasiswa lulus dan memasuki dunia kerja.
“Mahasiswa itu harus berani public speaking, belajar bertemu dengan orang baru, dan berani bicara. Karena nanti ketika lulus, mereka juga harus berkomunikasi dengan orang lain,” jelasnya.
Selain penguatan soft skill, POTIK Umsida juga aktif menghadirkan berbagai kegiatan edukatif. Kegiatan tersebut melibatkan narasumber dari dalam negeri maupun luar negeri. Dr Suprianto menjelaskan bahwa menghadirkan narasumber tidak hanya membutuhkan jejaring, tetapi juga pendekatan komunikasi yang baik.
Peran BPS dan Agen Statistik dalam Pengembangan POTIK
Dr Suprianto juga menjelaskan bahwa pengembangan POTIK Umsida tidak terlepas dari peran BPS Sidoarjo. Sejak awal, kerja sama dengan BPS menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun Pojok Statistik di Umsida.
Ia menceritakan bahwa POTIK Umsida mulai dirintis pada September 2023. Pada masa awal tersebut, pengelola masih mempelajari konsep dan arah pengembangan Pojok Statistik. Tantangan tersebut semakin besar karena Umsida tidak memiliki program studi statistik.
Meski demikian, kondisi itu tidak menjadi penghalang. POTIK Umsida tetap berkembang dengan memanfaatkan keahlian dosen yang memiliki latar belakang statistik.
“Karena di sini tidak ada prodi statistik, siapa pun yang punya latar belakang statistik diminta untuk membantu. Akhirnya saya yang mengerjakan. Dari situ kemudian muncul kebutuhan untuk memiliki lembaga yang lebih kuat secara kelembagaan,” ungkapnya.
Menurutnya, BPS Sidoarjo berperan dalam mendampingi pengelolaan kegiatan, memberikan masukan terkait indikator penilaian, serta membina agen statistik. Bahkan, BPS Sidoarjo disebut rutin hadir di Umsida untuk melakukan koordinasi dan pendampingan.
Dalam sesi diskusi, peserta juga mendapat penjelasan mengenai strategi menghidupkan agen statistik. Dr Suprianto menegaskan bahwa agen statistik tidak boleh hanya menjadi formalitas. Agen harus aktif, terlibat dalam kegiatan, dan mendapatkan pembinaan secara rutin.
“Kalau agen hanya formalitas, tidak akan banyak membantu. Maka selalu saya adakan kegiatan. Minimal satu bulan sekali ada webinar. Agen statistik harus hidup dan memiliki kemampuan di atas rata-rata mahasiswa biasa dalam bidang statistik,” tuturnya.
Diskusi Bahas Strategi Seminar Internasional POTIK Umsida
Kegiatan studi banding POTIK Umsida bersama POTIK Universitas Telkom Surabaya dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Pada sesi ini, Koordinator POTIK Universitas Telkom Surabaya Regita Putri Permata SStat MStat menanyakan strategi POTIK Umsida dalam menyelenggarakan seminar berskala internasional.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Koordinator POTIK Umsida Dr Suprianto SSi MSi CSA menjelaskan bahwa kegiatan internasional dapat terlaksana karena adanya jejaring yang kuat. Jejaring tersebut dibangun melalui kolega dosen, kerja sama riset, serta dukungan dari mitra BPS yang memiliki relasi akademik hingga luar negeri.
“Pertama yang kita bangun itu jejaring. Dosen biasanya memiliki kolega riset, kemudian teman-teman BPS juga banyak yang memiliki relasi dari luar negeri. Dari situ kita mencari narasumber yang relevan dengan topik kegiatan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa menghadirkan narasumber internasional tidak hanya membutuhkan jaringan, tetapi juga pendekatan komunikasi yang baik. Menurutnya, tidak semua orang yang memiliki keilmuan bersedia menjadi pembicara. Karena itu, pengelola kegiatan harus mampu meyakinkan narasumber bahwa materi yang disampaikan akan bermanfaat bagi peserta.
Dr Suprianto juga menyampaikan bahwa kegiatan internasional di POTIK Umsida awalnya tidak direncanakan secara besar. Namun, karena dilakukan secara konsisten, kegiatan tersebut terus berkembang hingga dapat menghadirkan narasumber internasional setiap tahun.
Melalui diskusi ini, peserta studi banding memperoleh gambaran bahwa seminar internasional dapat diwujudkan melalui jejaring, pemilihan topik yang relevan, komunikasi yang baik, serta komitmen untuk menjalankan kegiatan secara berkelanjutan.
Penulis: Annifa Umma’yah Bassiroh


















