Fst.umsida.ac.id – Tim laboran Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) berhasil lolos hibah KILAB 2026 melalui inovasi bertajuk Rancang Bangun Alat Pengering Sistem Gantung dengan Kontrol Suhu Otomatis.
Inovasi ini diketuai oleh Kintan Sari, STP, laboran Teknologi Pangan Umsida. Dalam pengembangannya, tim didampingi oleh Rahmah Utami Budiandari, STP MP sebagai pembimbing, serta melibatkan Rizkia Fitri Radityo, SSi MSi sebagai anggota.
Gagasan tersebut lahir dari kebutuhan laboratorium pangan terhadap alat pengering yang lebih sesuai untuk bahan uji sensitif panas, terutama bahan pangan berbentuk lembaran daun.
Melalui hibah KILAB 2026, tim laboran Umsida berupaya menghadirkan alat yang mampu mendukung praktikum dan riset, sekaligus menjaga nutrisi, klorofil, serta zat aktif pada bahan yang dikeringkan.
Alat Pengering untuk Bahan Sensitif Panas
Selama ini, alat pengering yang umum digunakan di laboratorium masih banyak berbasis sistem tray atau nampan. Sistem tersebut memiliki kelemahan karena bahan yang dikeringkan sering mengalami penumpukan.
Kondisi ini dapat membuat pengeringan tidak merata dan berisiko memunculkan kelembapan berlebih pada bagian tertentu.
Menurut Kintan, persoalan tersebut menjadi salah satu alasan utama timnya mengembangkan sistem pengering gantung.
“Pengering tipe tray atau nampan memiliki kelemahan karena bahan bisa menumpuk saat proses pengeringan. Untuk bahan pangan berbentuk lembaran daun, kondisi ini dapat membuat hasil keringnya tidak merata dan berisiko menumbuhkan mikroba,” jelasnya.
Melalui sistem gantung, bahan tidak diletakkan bertumpuk di atas nampan, melainkan digantung agar aliran udara panas dapat menyebar lebih bebas. D
engan begitu, proses pengeringan dapat berlangsung lebih stabil tanpa hambatan dari tumpukan bahan.
Kontrol Suhu Otomatis Jaga Kualitas Bahan
Salah satu keunggulan inovasi ini adalah penggunaan kontrol suhu otomatis. Bahan pangan berbasis daun umumnya sensitif terhadap panas, sehingga proses pengeringan perlu dilakukan pada suhu rendah dengan batas maksimal sekitar 40 derajat Celcius.
Kintan menjelaskan bahwa pengaturan suhu menjadi aspek penting karena suhu yang terlalu tinggi dapat merusak senyawa aktif pada bahan.
“Pengeringan daun harus dilakukan pada suhu rendah, maksimal sekitar 40 derajat Celcius. Kalau terlalu tinggi, senyawa aktif bisa rusak dan klorofil yang awalnya berwarna hijau dapat berubah menjadi cokelat,” ungkapnya.
Karena itu, alat ini dirancang untuk menjaga kestabilan suhu selama proses pengeringan. Saat ini, progres pengembangan telah memasuki tahap perancangan teknis, mulai dari tata letak kabinet, sistem aliran udara, laci penampung, hingga gantungan bahan.
Berpeluang Dikembangkan untuk UMKM
Inovasi yang lolos hibah KILAB 2026 ini diharapkan dapat menjadi standar baru dalam pengeringan sampel sensitif panas di laboratorium Teknologi Pangan Umsida.
Ke depan, alat ini juga berpeluang dikembangkan dengan sistem berbasis Internet of Things (IoT) agar proses pemantauan suhu dapat dilakukan secara digital.
Selain bermanfaat bagi laboratorium, alat pengering sistem gantung ini juga berpotensi diterapkan untuk UMKM pangan lokal.
Sistemnya yang hemat ruang dan hemat energi dapat membantu pelaku usaha dalam proses pengeringan bahan pangan secara lebih efisien.
“Harapannya, alat ini dapat menjadi standar baru pengeringan sampel sensitif panas, mendukung laboratorium berbasis digital, serta memberi dampak nyata bagi UMKM pangan lokal,” tutur Kintan.
Melalui inovasi ini, tim laboran Umsida berupaya mendorong kemandirian alat laboratorium, efisiensi anggaran, serta penguatan teknologi pangan yang aplikatif bagi pendidikan, riset, dan masyarakat.

















