Fst.umsida.ac.id – Digitalisasi sektor energi dan pangan perlu disertai penguatan keamanan siber. Tanpa perlindungan yang memadai, teknologi yang digunakan untuk meningkatkan produktivitas dapat menjadi pintu masuk serangan terhadap infrastruktur penting.
Hal tersebut disampaikan Prof Yasuo Musashi dari Kumamoto University Jepang dalam The 5th ICSSET 2026, Rabu (1/7/2026).
Ia menyampaikan materi berjudul “How DNS Cyber Security Study Can Contribute to Support the Sustainability Energy and Food Security in the Digital Era”.
Infrastruktur Pangan Bergantung pada Internet
Prof Yasuo menjelaskan bahwa pertanian modern telah memanfaatkan sensor Internet of Things untuk mengukur kelembapan tanah, mengatur irigasi, memantau cuaca, dan mengoperasikan drone.
“Precision agriculture sangat bergantung pada komunikasi data. Sensor dan perangkat otomatis harus terus terhubung agar proses pertanian dapat berjalan secara efisien,” jelasnya.
Ketergantungan serupa juga terjadi pada sektor energi.
“Smart grid membutuhkan pertukaran data secara real-time untuk mengatur produksi, distribusi, dan penggunaan energi,” katanya.
Berbagai teknologi tersebut dijalankan melalui Industrial Control Systems atau ICS yang terhubung ke jaringan internet.
“Keterhubungan ini memberikan efisiensi, tetapi juga memperbesar risiko apabila sistem keamanan tidak dipersiapkan sejak awal,” tambahnya.
Serangan DNS Dapat Mengganggu Operasional
Domain Name System atau DNS berfungsi menghubungkan nama domain dengan alamat internet yang digunakan perangkat untuk berkomunikasi.
“DNS merupakan salah satu fondasi komunikasi internet. Ketika DNS diserang, perangkat dapat diarahkan menuju server yang salah atau kehilangan akses terhadap sistem kontrolnya,” ungkap Prof Yasuo.
Serangan dapat dilakukan melalui DNS tunneling, cache poisoning, pembajakan domain, maupun Domain Generation Algorithms yang digunakan malware.
“Dalam infrastruktur energi, serangan siber dapat mengganggu turbin, sistem distribusi, atau perangkat pemantauan pembangkit,” tuturnya.
Gangguan serupa juga dapat berdampak pada rantai pasok pangan.
“Apabila komunikasi logistik atau sistem pendingin terganggu, bahan pangan dapat rusak sebelum sampai kepada konsumen,” jelasnya.
Explainable AI Mendeteksi Ancaman
Prof Yasuo menawarkan penggunaan Machine Learning dan Explainable Artificial Intelligence untuk meningkatkan kemampuan deteksi serangan.
“Algoritma seperti Random Forest dan XGBoost dapat mempelajari pola lalu lintas DNS dan mengenali domain yang menunjukkan karakteristik mencurigakan,” terangnya.
Menurutnya, Explainable AI diperlukan agar pengelola keamanan memahami alasan sebuah aktivitas diklasifikasikan sebagai ancaman.
“Sistem keamanan tidak cukup hanya memberikan peringatan. Sistem juga harus menjelaskan faktor yang membuat suatu domain atau alamat IP dianggap berbahaya,” katanya.
Analisis tersebut dapat dihubungkan dengan Cyber Threat Intelligence seperti VirusTotal dan AbuseIPDB.
“Integrasi dengan basis data ancaman membantu memastikan apakah sebuah domain atau alamat IP pernah terlibat dalam aktivitas berbahaya,” imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa ketahanan energi dan pangan di era digital tidak dapat dipisahkan dari keamanan siber.
“Semakin banyak proses yang terhubung ke internet, semakin penting pula perlindungan terhadap jaringan komunikasinya,” pungkasnya.

















