Dicap Sebagai Perusak Ekosistem, Apakah Ikan Sapu-Sapu Aman Dikonsumsi? Ini Kata Pakar

Fst.umsida.ac.id – Ikan sapu-sapu dikenal sebagai ikan yang mampu bertahan hidup di berbagai kondisi perairan, termasuk sungai yang tercemar.

Namun di balik kemampuannya tersebut, ikan ini justru menjadi ancaman bagi ekosistem sekaligus menimbulkan risiko kesehatan jika dikonsumsi sembarangan.

Pakar lingkungan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Syamsudduha Syahrorini ST MT, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu termasuk spesies invasif yang populasinya berkembang sangat cepat dan sulit dikendalikan di Indonesia.

“Ikan ini tidak hanya mengganggu ekosistem perairan, tetapi juga berpotensi membawa dampak kesehatan dan ekonomi,” ujarnya.

Dampak Ikan Sapu-Sapu terhadap Lingkungan
bahaya ikan sapu-sapu (Pexels) 2
Ilustrasi: Pexels

Menurut dosen Prodi Teknik Elektro itu, ledakan populasi ikan ini menyebabkan perubahan besar pada keseimbangan ekosistem perairan.

Ikan ini memonopoli sumber daya makanan karena bersifat omnivora dan agresif.

Keberadaan ikan sapu-sapu juga menjadi indikator kualitas air di ekosistem tersebut.

“Populasi yang meledak sering kali menunjukkan kualitas air yang sudah menurun atau tercemar,” jelasnya.

Benarkah Ikan Sapu-Sapu Halal Dikonsumsi?

Dr Rini menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu sebenarnya secara teknis dapat dimakan dan secara hukum Islam termasuk halal karena merupakan ikan air tawar.

Namun, katanya, status tersebut menjadi makruh atau haram jika membahayakan kesehatan.

Terlebih jika ikan ini yang dikubur hidup-hidup yang dikritik oleh MUI karena bertentangan dengan prinsip kesejahteraan hewan (tidak sesuai dengan prinsip Ihsan dalam Islam).

Hal tersebut disebabkan karena ikan ini hidup dan makan di dasar perairan kotor sehingga jaringan tubuhnya sering terkontaminasi logam berat berbahaya seperti Merkuri (Hg), Timbal (Pb), dan Kadmium (Cd).

“Populasinya kebanyakan hidup di dasar perairan dan memakan sedimen maupun sisa organik. Karena itu tubuhnya berpotensi mengandung logam,” ujarnya.

Risiko konsumsi ikan sapu-sapu
bahaya ikan sapu sapu (Pexels)
Ilustrasi: Pexels

Ikan ini mengandung akumulasi logam berat (bersifat karsinogenik) seperti merkuri, timbal, dan kadmium sehingga berpotensi membawa patogen, bakteri, atau parasit baru.

Dengan berbagai kandungan tersebut, ikan sapu-sapu bisa menyebabkan berbagai gangguan kesehatan jika dikonsumsi, seperti mual, muntah, dan diare jika berasal dari perairan tercemar.

Dan jika mengkonsumsi ikan ini dalam jangka panjang, maka bisa berpotensi gangguan kesehatan serius, seperti kerusakan organ dan kanker.

Menurutnya, ikan ini hanya dinilai aman untuk dikonsumsi jika berasal dari perairan yang benar-benar bersih, atau dibudidayakan khusus dalam kondisi lingkungan terkontrol dan diolah dengan baik.

Meski demikian, ia menyebut ikan ini masih memiliki potensi pemanfaatan non-konsumsi.

“Ikan ini bisa dimanfaatkan menjadi tepung ikan untuk pakan atau sumber protein pada pakan ternak dan ikan,” jelasnya.

Selain itu, ikan ini juga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik cair maupun produk non-pangan lainnya.

Sinergi Pengendalian Populasi 

Menurut Ketua Pusat Studi Lingkungan dan Smart City Umsida itu, pengendalian populasi ikan sapu-sapu tidak cukup dilakukan melalui penangkapan biasa karena reproduksi ikan ini sangat cepat.

Ia menegaskan bahwa pengendalian ikan sapu-sapu perlu dibarengi regulasi yang lebih ketat terkait pelepasan spesies asing ke perairan umum.

“Pemusnahan manual saja tidak cukup. Harus ada pengendalian bersama dan inovasi pemanfaatan yang tepat agar tidak semakin merusak biodiversitas perairan Indonesia,” pungkasnya.(Romadhona)

Bertita Terkini

SDGs Center Umsida Hadiri Forum Nasional Bappenas, Percepat Capaian SDGs 2030
July 4, 2026By
Studi Banding POTIK Umsida dan Universitas Telkom Surabaya Perkuat Literasi Data
June 30, 2026By
Puspita Della Aini, Wisudawan Terbaik Teknologi Pangan Umsida dengan IPK 4.00
June 28, 2026By
Expo Saintek 2026 Hadirkan Lomba dan Pameran Inovasi Mahasiswa di Kampus 2 umsida
June 18, 2026By
Lulus Tepat Waktu Yudisium FST Umsida, 250 Mahasiswa Resmi Sandang Gelar Sarjana
June 15, 2026By
Dari Rumput Laut Jadi Beras Sehat, Tim Umsida Lolos P2MW 2026
June 11, 2026By
Dosen Umsida Bagikan Strategi Raih Hibah RIIM BRIN di Universitas Panca Marga
June 9, 2026By
Lewat PPK Ormawa, Himagro Umsida Kembangkan Potensi Desa Wonosunyo
June 4, 2026By

Prestasi

Mahasiswa Umsida Raih Juara 1 Karate Nasional di UMM Malang
May 13, 2026By
Syalwa Mahasiswa Agroteknologi Umsida Raih Juara 1 di Paku Bumi Open 2026
April 12, 2026By
Percaya Diri Tanpa Ragu, Mahasiswa UmsidaTunjukkan Mental Tanding di Paku Bumi Open 2026
April 11, 2026By
Atlet Umsida Bawa Pulang 3 Medali Sekaligus di Ajang SLC Cup 2026
April 10, 2026By
IMEI Team Umsida Juara 1 Battery Electric di Shell Eco-Marathon Qatar 2026
February 7, 2026By
Torehkan Prestasi Nasional, Mahasiswa Teknik Mesin Umsida Sabet Juara 2 Kejurnas Jujitsu Piala KONI
February 1, 2026By
Mahasiswa Ini Sabet 2 Emas di Kejuaraan Ju Jitsu Nasional, Kini Persiapkan Diri ke Jepang
January 29, 2026By
Siap Bertanding di Shell Eco Marathon Qatar 2026, Tim IMEI Umsida Resmi Diberangkatkan
January 22, 2026By