Jebakan Kumbang Badak Kelapa dan Monitoring Digital Bantu Petani Banyuwangi

Fst.umsida.ac.id – Tim Pengabdian Masyarakat dari Program Studi Informatika dan Agroteknologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), menerapkan jebakan kumbang badak kelapa dan sistem monitoring digital untuk membantu petani di Desa Plampang Rejo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Rabu (18/02/2026).

Program ini menjadi salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat.

Tim yang terdiri dari Dr Yunianita Rahmawati SKom MKom, Intan Rohma Nurmalasari SP MP., dan Hamzah Setiawan SKom MKom, menyasar 10 kelompok tani yang lahannya ditanami pohon kelapa. Di wilayah tersebut, tanaman kelapa menghadapi ancaman serius dari serangan kumbang badak, terutama pada tanaman yang masih muda.

Hama kumbang badak diketahui menyerang jaringan muda pada pohon kelapa. Serangan pada tanaman berumur kurang dari satu tahun bahkan dapat menyebabkan kematian tanaman, sehingga petani harus melakukan penyemaian atau penanaman ulang. Kondisi ini tentu berdampak pada waktu, tenaga, dan pendapatan petani.

Serangan kumbang badak jadi ancaman bagi tanaman kelapa

Ketua kelompok tani, Pak Suryono, mengungkapkan bahwa serangan kumbang badak membuat tingkat keberhasilan tanaman kelapa yang ia tanam sangat rendah. Dari seluruh tanaman yang ditanam, hanya 47,5 persen yang mampu bertahan hidup, sedangkan sisanya mati akibat diserang hama tersebut.

Sebelumnya, petani telah mencoba beberapa cara pengendalian, seperti pemberian pupuk pembasmi hama dan pemasangan garam kasar pada ujung daun kelapa muda. Namun, dua cara itu dinilai hanya cukup efektif ketika intensitas serangan kumbang badak masih rendah.

Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian Umsida menawarkan solusi tambahan melalui pemasangan jebakan jaring pada daun muda kelapa. Metode ini difokuskan pada tanaman kelapa muda karena bagian pucuk dan daun mudanya menjadi sasaran utama serangan kumbang badak.

Jaring yang digunakan merupakan jaring pelindung tanaman padi. Bahan ini dipilih karena mudah diperoleh, cukup kuat, dan memiliki permukaan licin yang dapat membuat kumbang badak terjerat ketika mencoba masuk ke bagian daun muda.

Sistem monitoring digital bantu pencatatan pengendalian hama

Selain pemasangan jebakan, tim juga mengenalkan Sistem Informasi Pertanian Polikultural (SIPP) kepada petani. Sistem ini digunakan untuk mencatat kondisi tanaman, kegiatan perawatan, serta upaya pengendalian hama secara lebih tertata dan terkomputerisasi.

Dr Yunianita, selaku ketua tim pengabdian masyarakat menjelaskan bahwa teknologi tersebut dapat membantu petani memantau perkembangan tanaman secara bertahap. “Kami memanfaatkan teknologi komputer untuk mencatat perkembangan tanaman kelapa, khususnya dalam pengendalian hama,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pencatatan berbasis komputer akan memudahkan petani dalam menyimpan data secara rapi dan menelusuri kembali riwayat perawatan tanaman. Dengan demikian, petani dapat melihat kondisi tanaman, mengetahui langkah perawatan yang sudah dilakukan, sekaligus menilai efektivitas pengendalian hama di lahan mereka.

Hasil pemasangan jebakan menunjukkan ketahanan hingga 95 persen

Setelah sosialisasi, tim melanjutkan kegiatan dengan memasang jebakan pada 10 titik lahan. Sebanyak 80 tanaman kelapa dipasangi jebakan jaring sebagai langkah perlindungan tambahan dari serangan kumbang badak. Proses pemasangan ini berlangsung selama dua minggu dengan melibatkan tiga petani agar pemasangan dilakukan secara tepat pada titik-titik rawan.

Hasil pemantauan selama dua bulan menunjukkan bahwa tanaman kelapa yang dipasangi jebakan jaring memiliki tingkat ketahanan hingga 95 persen. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar tanaman mampu bertahan dari serangan kumbang badak.

Dr Yunianita menilai hasil tersebut cukup menggembirakan, meskipun evaluasi tetap perlu dilakukan pada teknik pemasangan. “Pemantauan selama dua bulan menunjukkan hasil yang baik. Sebagian besar tanaman kelapa yang dipasangi jebakan jaring dapat terhindar dari serangan hama dan tetap bertahan hidup,” katanya.

Bertita Terkini

Perkuat Sinergi Pertanian, Prodi Agroteknologi FST Umsida Teken MoA dengan UPT PATPH Jatim
May 8, 2026By
Serunya Belajar Coding, Siswa SMK Muhammadiyah 3 Tulangan Kunjungi Informatika Umsida
April 25, 2026By
Mahasiswa Teknik Elektro Umsida Kuliah Lapangan di PLTGU Gresik, Dalami Sistem Tenaga Listrik
April 24, 2026By
Konsep Green Masjid di Ramadan, Dosen Umsida Dorong Masjid Lebih Ramah Lingkungan
March 26, 2026By
Dosen Umsida Kembangkan Teknologi PLTS Berbasis IoT untuk Produksi Garam Lebih Efisien
March 8, 2026By
Umsida Hadirkan Smart Trainer PLTS di SMK Pemuda Krian, Perkuat Kompetensi Siswa di Bidang Energi Terbarukan
March 2, 2026By
Inovasi Dosen Teknik Mesin Umsida, Mesin Pencacah Plastik Dukung Sedekah Sampah
February 23, 2026By
MIST Umsida Perkuat Jejaring Internasional Bersama Akademisi UTP Malaysia
February 18, 2026By

Prestasi

Syalwa Mahasiswa Agroteknologi Umsida Raih Juara 1 di Paku Bumi Open 2026
April 12, 2026By
Percaya Diri Tanpa Ragu, Mahasiswa UmsidaTunjukkan Mental Tanding di Paku Bumi Open 2026
April 11, 2026By
Atlet Umsida Bawa Pulang 3 Medali Sekaligus di Ajang SLC Cup 2026
April 10, 2026By
IMEI Team Umsida Juara 1 Battery Electric di Shell Eco-Marathon Qatar 2026
February 7, 2026By
Torehkan Prestasi Nasional, Mahasiswa Teknik Mesin Umsida Sabet Juara 2 Kejurnas Jujitsu Piala KONI
February 1, 2026By
Mahasiswa Ini Sabet 2 Emas di Kejuaraan Ju Jitsu Nasional, Kini Persiapkan Diri ke Jepang
January 29, 2026By
Siap Bertanding di Shell Eco Marathon Qatar 2026, Tim IMEI Umsida Resmi Diberangkatkan
January 22, 2026By
IMEI Umsida Tancap Gas di Shell Eco Marathon Qatar 2026 dengan Improvisasi Kendaraan Listrik
January 21, 2026By