Fst.umsida.ac.id – Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Metatia Intan Mauliana SPd MSi dan Rahmah Utami Budiandari STP MP, melakukan pemberdayaan pemuda Desa Kepatihan, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, melalui program pengelolaan sampah berbasis Insenerasi Sederhana Minim Asap (INSEMA).
Program ini dihadirkan sebagai upaya menjawab persoalan pengelolaan sampah rumah tangga yang masih dilakukan secara konvensional, seperti dibakar secara terbuka atau ditimbun.
Kebiasaan tersebut masih banyak dijumpai di masyarakat karena dianggap sebagai cara paling mudah dan cepat untuk mengurangi tumpukan sampah, meski dalam jangka panjang berisiko menimbulkan gangguan kesehatan dan pencemaran lingkungan.
Pembakaran terbuka masih jadi kebiasaan warga
Permasalahan sampah di Desa Kepatihan tidak bisa dilepaskan dari keterbatasan fasilitas yang tersedia. Dengan jumlah penduduk yang cukup padat, desa ini hanya memiliki satu tempat pembuangan akhir.
Di sisi lain, proses pengambilan sampah juga belum selalu berlangsung secara teratur, sehingga warga sering kali harus mencari cara sendiri untuk menangani sampah rumah tangga mereka.
Kondisi tersebut mendorong sebagian masyarakat memilih pembakaran terbuka sebagai solusi paling praktis. Padahal, cara ini justru memunculkan masalah baru.
Asap hasil pembakaran dapat mengganggu kenyamanan warga sekitar, mencemari udara, dan berpotensi memicu gangguan kesehatan apabila terus terhirup dalam jangka waktu panjang.
Tidak hanya itu, sampah yang menumpuk juga berisiko menjadi tempat berkembangnya berbagai agen penyakit seperti lalat, nyamuk, dan tikus.
Karena itu, persoalan sampah tidak lagi bisa dipandang sebagai urusan kebersihan semata, tetapi juga terkait erat dengan kualitas kesehatan masyarakat dan kondisi lingkungan desa.
INSEMA dipilih sesuai kebutuhan masyarakat

Melihat kondisi tersebut, tim Umsida tidak hanya hadir membawa sosialisasi, tetapi juga menawarkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan warga.
Teknologi yang diperkenalkan adalah INSEMA, alat sederhana yang dirancang untuk membantu proses pembakaran sampah dengan asap yang lebih minim dibandingkan metode pembakaran konvensional.
Pemilihan teknologi ini didasarkan pada hasil analisis kebutuhan masyarakat setempat. Warga membutuhkan metode pengolahan sampah yang efisien, mudah diterapkan, dan tidak membutuhkan proses yang rumit.
Karena itulah, INSEMA dipandang sebagai pilihan yang lebih realistis untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Pelatihan menyasar pemuda desa

Program ini juga secara khusus menyasar pemuda desa sebagai peserta utama. Langkah ini dinilai penting karena pemuda memiliki peran strategis sebagai penggerak perubahan perilaku di lingkungan sekitarnya.
Melalui kegiatan sosialisasi, peserta dikenalkan pada jenis-jenis sampah, berbagai alternatif pengolahannya, hingga peluang pemanfaatan ulang limbah menjadi sesuatu yang lebih berguna.
Pendekatan ini membuat program tidak berhenti pada teori, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah merupakan bagian penting dari upaya membangun lingkungan desa yang lebih sehat, tertata, dan berkelanjutan.
Penulis: Annifa Umma’yah Bassiroh

















