Fst.umsida.ac.id – Inovasi di bidang energi terbarukan kembali hadir dari Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Dosen dan mahasiswa Umsida berhasil mengembangkan pendingin pintar panel surya berbasis IoT yang mampu menjaga suhu panel tetap stabil sekaligus meningkatkan daya listrik yang dihasilkan.
Penelitian ini menjadi langkah nyata dalam mendukung pemanfaatan energi bersih yang lebih efisien di Indonesia.
Riset tersebut dilakukan karena suhu permukaan panel surya sangat memengaruhi performa sistem photovoltaic (PV).
Saat suhu terlalu tinggi, efisiensi panel menurun dan daya listrik yang dihasilkan menjadi lebih rendah. Kondisi ini umum terjadi di negara tropis seperti Indonesia yang memiliki intensitas sinar matahari tinggi hampir sepanjang tahun.
Melihat tantangan tersebut, tim peneliti Teknik Elektro Umsida merancang sistem pendingin otomatis yang bekerja berdasarkan data suhu aktual panel.
Sistem ini menggunakan sensor NTC, mikrokontroler ESP32, pompa air, relay, katup solenoid, serta pipa tembaga yang dipasang di bagian belakang panel surya sebagai jalur pendingin.
Bekerja Otomatis Saat Suhu Naik
Cara kerja sistem cukup sederhana namun efektif. Ketika suhu panel mencapai 40 derajat Celsius, sensor akan mengirimkan data ke ESP32.
Selanjutnya, sistem akan menyalakan pompa air selama lima menit agar suhu panel turun kembali ke batas ideal. Dengan metode ini, pendinginan hanya aktif saat dibutuhkan sehingga lebih hemat energi.
Seluruh data suhu, tegangan, arus, dan daya listrik juga dapat dipantau secara real time melalui platform Blynk dan Google Spreadsheet.
Pengguna dapat melihat kondisi panel surya kapan saja melalui ponsel atau perangkat lain yang terhubung internet.
Hasil Lebih Baik dari Sistem Manual
Dalam penelitian ini, tim membandingkan tiga mode pengoperasian, yaitu tanpa pendingin, pendingin manual, dan pendingin otomatis berbasis IoT.
Sistem manual bekerja dengan menyalakan pompa setiap satu jam selama lima menit, tanpa melihat kondisi suhu panel.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa pendingin otomatis memberikan performa terbaik. Energi listrik harian yang dihasilkan mencapai 229,77 Wh, lebih tinggi dibanding pendingin manual sebesar 185,62 Wh dan mode tanpa pendingin sebesar 135,81 Wh.
Artinya, sistem otomatis mampu meningkatkan produksi energi hingga 69,19 persen dibanding panel tanpa pendingin.
Selain itu, suhu rata-rata panel juga berhasil dijaga di kisaran 37 hingga 39 derajat Celsius, lebih rendah dibanding metode lainnya.
Kondisi ini membuat panel bekerja lebih stabil, terutama saat siang hari ketika panas matahari sedang tinggi.
Potensi Dikembangkan di Indonesia
Tim peneliti menilai teknologi ini memiliki peluang besar diterapkan pada rumah tangga, gedung perkantoran, industri, hingga pembangkit listrik tenaga surya skala besar.
Dengan sistem otomatis berbasis IoT, pengguna dapat meningkatkan efisiensi panel surya tanpa harus melakukan pengawasan manual secara terus-menerus.
Melalui penelitian ini, Umsida kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta mendukung masa depan energi berkelanjutan.
Penulis: Annifa Umma’yah Bassiroh

















