Fst.umsida.ac.id – Dosen umsida melalui riset di bidang energi terbarukan, tim peneliti mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sistem pembuat garam dengan kontrol jarak jauh berbasis Internet of Things (IoT). Penelitian ini dipimpin oleh Dr Ir Jamaaluddin MM, dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), bersama tim peneliti dan mitra industri PT DMK Teknik Utama.
Menurut Jamaaluddin, pemanfaatan energi matahari sangat potensial untuk meningkatkan efisiensi produksi garam sekaligus mendukung penggunaan energi bersih yang lebih ramah lingkungan.
“Indonesia memiliki energi matahari yang sangat melimpah sehingga berpotensi besar dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan untuk berbagai kebutuhan, termasuk dalam proses produksi garam,” jelasnya.
Selain itu, pengembangan teknologi ini juga diharapkan dapat membantu meningkatkan produktivitas petani garam, terutama di wilayah pesisir yang selama ini sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Pemanfaatan Energi Surya untuk Produksi Garam

Dalam penelitian ini, panel photovoltaic (PV) menghasilkan energi listrik yang kemudian disimpan dalam baterai untuk menyalakan kompor pemanas serta perangkat elektronik lainnya. Energi tersebut digunakan untuk memanaskan air laut hingga mengalami penguapan dan membentuk kristal garam.
Selain menghasilkan garam, sistem ini juga mampu menghasilkan air murni dari proses kondensasi uap air selama pemanasan.
Teknologi ini memungkinkan proses produksi garam tetap berjalan meskipun intensitas matahari tidak terlalu tinggi, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca seperti metode tambak tradisional.
Jamaaluddin menambahkan bahwa penggunaan teknologi PLTS juga memberikan keuntungan dari sisi keberlanjutan energi karena memanfaatkan sumber energi yang bersih dan tidak menghasilkan emisi karbon.
Produksi Garam Lebih Stabil

Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi garam menggunakan teknologi PLTS lebih efisien dibandingkan metode konvensional. Produksi garam dengan metode tradisional rata-rata mencapai sekitar 0,009 gram per cm² per jam, sedangkan sistem PLTS mampu menghasilkan sekitar 0,016 gram per cm² per jam.
Dengan teknologi ini, proses produksi garam dapat berlangsung lebih stabil karena tidak sepenuhnya bergantung pada cuaca,” tambah Jamaaluddin.
Selain meningkatkan efisiensi produksi, sistem ini juga dilengkapi dengan teknologi pemantauan berbasis IoT yang memungkinkan pengawasan proses produksi secara jarak jauh. Melalui sensor yang terpasang pada sistem, peneliti dapat memantau kondisi suhu, kelembapan, serta kinerja panel surya secara real-time.
Pengembangan teknologi PLTS berbasis IoT ini diharapkan dapat menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan produktivitas industri garam nasional sekaligus mendukung pemanfaatan energi terbarukan yang ramah lingkungan di Indonesia.
Penulis: Annifa
















