Fst.umsida.ac.id – Pojok Statistik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar Seminar Wearables & Statistics: Masa Depan Pengukuran Kekuatan Otot Manusia di Kampus 2 Umsida, Selasa (3/9/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Dr Widi Arti SFis MKes AIFO sebagai narasumber. Dr Cindy Cahyani Astuti SSi MSi bertugas sebagai moderator.
Seminar diikuti 187 peserta dari berbagai program studi. Peserta berasal dari bidang kesehatan, psikologi, hingga teknik.
Selain seminar, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan field evaluation Pojok Statistik Umsida bersama BPS. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan budaya riset dan literasi data bagi sivitas akademika Umsida.

Wakil Rektor I Umsida Prof Dr Ir Hana Catur Wahyuni ST MT IPM menyampaikan bahwa kegiatan Pojok Statistik penting untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa. Menurutnya, pengalaman belajar harus berkaitan dengan persoalan nyata.
“Apapun yang ada di Umsida, tujuannya harus meningkatkan kompetensi mahasiswa. Tema-tema yang diangkat dan riset yang dikembangkan perlu mengolaborasikan dosen, mahasiswa, serta institusi mitra,” ujarnya.
Prof Hana menjelaskan bahwa kolaborasi dengan BPS, dunia industri, pemerintahan, dan lembaga lain dapat memperluas pengalaman mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh teori di kelas.
Mahasiswa juga perlu memahami penerapan statistik dalam berbagai bidang. Mereka perlu mengenal fungsi uji t, uji F, maupun ANOVA untuk menyelesaikan persoalan secara terukur.
“Melalui kegiatan ini, teori yang diperoleh di kelas dapat diimplementasikan bersama para pemateri. Mahasiswa dapat memahami untuk apa uji statistik digunakan dan di bidang apa ilmu tersebut dapat diterapkan,” tambahnya.
Pojok Statistik Perkuat Kolaborasi Lintas Bidang

Ketua sekaligus Koordinator Pojok Statistik Umsida Dr Suprianto SSi MSi mengatakan bahwa statistik dapat diterapkan dalam seluruh bidang keilmuan. Karena itu, mahasiswa perlu memahami statistik sejak awal.
“Statistik itu ibarat air. Ketika ditempatkan di gelas, ia mengikuti bentuk gelas; ketika ditempatkan di kotak, ia mengikuti bentuk kotak. Artinya, statistik dapat diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan,” tuturnya.
Ia menambahkan, Pojok Statistik Umsida hadir untuk mengembangkan pemanfaatan data dan statistik di seluruh program studi. Statistik dapat digunakan untuk mengukur fenomena, membaca data, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti.
“Statistik merupakan alat yang sangat bermanfaat. Namun, alat tersebut tidak akan berarti apabila kita tidak mampu mengelola dan menggunakannya dengan baik,” jelas Dr Suprianto.
Ia juga mengapresiasi mahasiswa yang mengikuti seminar di tengah masa libur semester. Semangat tersebut, menurutnya, perlu dijaga sebagai bekal membangun kemampuan riset.
Wearables untuk Pengukuran Kekuatan Otot

Dalam sesi materi, Dr Widi Arti menjelaskan bahwa statistik berperan dalam seluruh tahapan penelitian. Tahapan tersebut meliputi identifikasi masalah, pengumpulan data, analisis, interpretasi hasil, hingga publikasi.
“Penelitian yang baik bukan hanya penelitian yang selesai dilakukan, tetapi juga penelitian yang dipublikasikan. Dengan publikasi, hasil penelitian dapat menjadi portofolio akademik dan memberi manfaat yang lebih luas,” ungkapnya.
Dr Widi mencontohkan riset mengenai keseimbangan dan kekuatan otot atlet sepatu roda. Penelitian tersebut mengukur kekuatan otot, stabilitas pergelangan kaki, keseimbangan, serta biomarker tubuh setelah atlet memperoleh latihan tertentu.
Selanjutnya, ia mengenalkan peluang penggunaan perangkat wearables dalam pengukuran kekuatan otot. Perangkat ini dapat membantu proses pengukuran secara lebih praktis dan real time.
Hasil pengukuran dapat ditampilkan dalam bentuk angka, grafik, maupun kategori kondisi otot. Oleh sebab itu, data tersebut dapat membantu tenaga ahli menentukan kebutuhan latihan seseorang.
Dalam sesi tanya jawab, Asa, mahasiswa baru Program Studi Psikologi Umsida, menanyakan cara statistik menggambarkan kondisi tubuh seseorang. Pertanyaan itu berkaitan dengan penggunaan wearables untuk mengukur kekuatan otot.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Dr Widi menjelaskan bahwa statistik tidak membaca individu secara langsung. Statistik mengolah data yang diperoleh dari pengukuran tubuh.
Data dari perangkat wearables dapat meliputi aktivitas otot, gerak, keseimbangan, dan perkembangan performa latihan. Selanjutnya, data tersebut dibandingkan dengan hasil pengukuran sebelumnya atau standar tertentu.
“Dari data yang valid dan analisis yang tepat, kita dapat melihat pola, misalnya peningkatan kekuatan otot, perbedaan kondisi otot kanan dan kiri, maupun kebutuhan latihan seseorang,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa statistik tidak menggantikan peran tenaga ahli. Namun, statistik membantu mengubah data menjadi informasi yang lebih mudah dipahami. Dengan demikian, hasilnya dapat mendukung pengambilan keputusan yang tepat.


















