FST.Umsida.ac.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menghadirkan sebuah episode menarik dalam Podcast Perpustakaan Umsida, dengan membahas riset tentang keamanan pangan keluarga dan anak. Dalam episode ini, Rahma Utami Yudiandari ST STP MP, dosen Prodi Teknologi Pangan Umsida, mengupas lebih dalam penelitian yang dilakukan bersama timnya untuk memberikan edukasi kepada kader Nasyiatul Aisyiyah (NA) Sidoarjo mengenai pentingnya keamanan pangan bagi keluarga.
Baca Juga: Prodi Agroteknologi Umsida Gelar Edufair 2025, Dorong Hidroponik Sebagai Solusi Pertanian Masa Depan
Kasus Keracunan Pangan Meningkat, Umsida Hadirkan Edukasi
Image: Youtube Library Umsida
Dalam pembukaannya, Rahma menjelaskan pentingnya edukasi ini, terutama mengingat tingginya kasus keracunan pangan di Jawa Timur dalam dua dekade terakhir.
“Di tahun 2001 sampai 2023 itu ada tren bahwasanya di Jawa Timur terdapat 297 kasus keracunan akibat kesalahan di obat dan makanan olahan,” ungkapnya.
Melihat kondisi ini, tim peneliti dari Prodi Teknologi Pangan Umsida merasa perlu memberikan edukasi kepada kelompok masyarakat yang memiliki peran besar dalam keamanan pangan keluarga, yaitu ibu-ibu dan kader Nasyiatul Aisyiyah.
“Kenapa kok Nasyiatul Aisyiyah Sidoarjo? Karena organisasi ini didominasi oleh perempuan dan ibu-ibu. Ibu-ibu adalah pilar penting di keluarga yang mempersiapkan makanan dan mengedukasi anak-anak soal jajanan yang aman,” jelasnya.
Metode Penelitian: Diskusi, Penyuluhan, dan Legalitas Usaha
Riset yang dilakukan tidak hanya sebatas penyuluhan, tetapi juga melalui tahapan diskusi dan identifikasi kebutuhan kader NA.
“Pertama, kami diskusi dulu dengan kader NA, salah satunya Bu Hanun, untuk menentukan topik yang dibutuhkan,” kata Rahma.
Selain itu, mereka juga menemukan bahwa NA memiliki asosiasi pengusaha, yaitu Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (Apuna), yang mayoritasnya bergerak di bidang makanan dan minuman. Hal ini semakin memperkuat urgensi edukasi tentang keamanan pangan.
“Kami menemukan bahwa selain agenda NA tanggap stunting, di sana juga terdapat komunitas pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah. Banyak dari mereka yang bergerak di sektor makanan dan minuman, sehingga penting bagi kami untuk memberikan edukasi keamanan pangan,” tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, tim melakukan penyuluhan dalam bentuk tatap muka serta sesi online melalui Zoom Meeting dan Google Meet. Tujuannya untuk menampung kebutuhan informasi kader NA terkait materi keamanan pangan dan legalitas usaha.
“Dari total 100% pengusaha NA, baru kurang dari 10% yang memiliki legalitas usaha. Sedangkan saat ini, legalitas usaha sangat penting,” ujarnya.
Sesi penyuluhan juga membahas bagaimana ibu-ibu dapat mengenali bahan tambahan pangan yang aman, sehingga mereka lebih sadar dalam memilih makanan dan jajanan untuk keluarga.
“Kalau kita keluar-keluar, yang memilih makanan kan ibu-ibu. Kalau ibu-ibunya tidak tahu tentang keamanan pangan, bagaimana bahan tambahan pangan yang baik, maka dikhawatirkan mereka akan memilih sembarang makanan hanya karena anaknya suka atau kenyang,” katanya.
Temuan Menarik: Minimnya Kesadaran Legalitas dan Keamanan Pangan
Setelah penyuluhan dilakukan, tim peneliti menemukan bahwa pemahaman peserta meningkat secara signifikan.
“Alhamdulillah, berdasarkan kuisioner yang kami berikan sebelum dan sesudah penyuluhan, ada peningkatan pemahaman dari yang tidak tahu menjadi tahu,” ungkap Rahma.
Selain itu, temuan lain yang menarik adalah minimnya kesadaran legalitas usaha di kalangan pengusaha NA.
“Dari 100% anggota Apuna, baru 10% yang memiliki legalitas usaha. Ini menjadi temuan utama kami dan harapannya bisa kami lanjutkan dalam program berikutnya,” jelasnya.
Rahma juga menekankan pentingnya ibu-ibu memahami bahan tambahan pangan agar dapat lebih selektif dalam memilih makanan yang aman bagi keluarga.
“Banyak makanan yang warnanya sangat mencolok, tidak luntur saat dipegang, dan tidak berubah meski disimpan lama. Ini perlu diwaspadai karena mungkin mengandung pewarna yang tidak semestinya digunakan dalam makanan,” jelasnya.
Pendampingan UMKM untuk Mendapatkan Legalitas Usaha
Image: Youtube Library Umsida
Sebagai tindak lanjut dari riset ini, Rahma dan timnya berencana untuk mendampingi pengusaha Apuna dalam proses memperoleh legalitas usaha dan sertifikasi halal.
“Di Umsida ada Halal Center yang bisa membantu dalam proses sertifikasi halal. Kami ingin mengawal Apuna untuk mendapatkan legalitasnya terlebih dahulu, sehingga nantinya mereka bisa lebih mudah mengurus sertifikasi halal,” kata Rahma.
Selain itu, program edukasi tentang keamanan pangan ini akan terus dikembangkan dengan kolaborasi yang lebih luas agar semakin banyak masyarakat yang mendapatkan manfaat.
“Kami ingin memperluas edukasi ini, tidak hanya di NA Sidoarjo, tetapi juga dengan organisasi lain agar semakin banyak yang memahami pentingnya keamanan pangan,” ungkapnya.
Baca Juga: Analisis Penggunaan MCB DC dan AC dalam Instalasi Listrik Modern
Dampak Positif dan Harapan Ke Depan
Riset ini berkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Zero Hunger.
“Dengan edukasi keamanan pangan, kita bisa lebih sadar memilih makanan yang sehat dan menghindari risiko penyakit akibat konsumsi pangan yang tidak aman,” tambahnya.
Sebagai penutup, Rahma berharap hasil riset ini dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi kader NA dan masyarakat luas.
“Kami ingin sedikit memberikan kebermanfaatan dari keilmuan Teknologi Pangan untuk masyarakat. Harapannya, edukasi ini dapat membantu ibu-ibu lebih selektif dalam memilih makanan yang aman, sehat, dan halal,” tutupnya.
Penulis: Uba